Aku Terlalu Sering Memikirkan Semua Hal Sendirian

 

Aku Terlalu Sering Memikirkan Semua Hal Sendirian

Aku mulai sadar satu hal yang diam-diam melelahkan:

Aku terlalu sering memikirkan semuanya sendirian.

Hal kecil aku pikirkan sendiri.
Masalah aku simpan sendiri.
Perasaan aku jelaskan ke diriku sendiri sampai larut malam, tanpa pernah benar-benar aku ceritakan ke siapa pun.

Dan lama-lama… itu membuat kepalaku penuh.

Bukan karena hidupku paling berat.
Bukan juga karena tidak ada orang sama sekali.

Tapi karena aku terlalu terbiasa jadi “yang mengerti”, sampai lupa rasanya dimengerti.

Aku sering bilang:

“Nggak apa-apa, nanti juga reda sendiri.”

Tapi kenyataannya, tidak semua hal reda hanya karena dipendam.

Ada pikiran yang makin besar saat terus disimpan sendirian.
Ada rasa capek yang makin dalam saat tidak pernah benar-benar dikeluarkan.

Yang paling aneh adalah ini:

Aku bisa terlihat biasa saja di depan orang lain,
tapi di dalam kepala, aku sudah ngobrol dengan diriku sendiri ribuan kali.

Mengulang kemungkinan.
Mengulang ketakutan.
Mengulang percakapan yang bahkan belum tentu terjadi.

Dan semua itu terasa sangat nyata saat tidak ada yang tahu isi kepalaku sebenarnya.

Aku bukan tidak ingin cerita.
Kadang aku cuma takut:

  • dianggap berlebihan
  • tidak dipahami
  • atau malah jadi beban

Jadi aku memilih diam.

Padahal diam terlalu lama juga melelahkan.

Sekarang aku mulai belajar sesuatu yang sederhana tapi sulit:

Tidak semua hal harus aku tanggung sendirian.

Aku tidak harus selalu jadi orang yang paling kuat di ruangan.
Aku tidak harus selalu terlihat tenang supaya dianggap baik-baik saja.

Kadang aku juga boleh lelah.
Kadang aku juga boleh bicara.
Kadang aku juga boleh bilang:

“Aku capek.”

Dan itu tidak membuatku lemah.

Itu cuma membuatku lebih manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Malam Membuat Kita Lebih Emosional?

Aku Nggak Ingin Menghilang, Aku Cuma Ingin Berhenti Merasa Terlalu Berat

Aku Mulai Belajar Hidup Tanpa Terlalu Keras Pada Diri Sendiri